regional

Gajah Sebelat di Bengkulu, Koloni Terakhir Berjalan Punah

Kamis, 6 November 2025 | 09:32 WIB
Hutan menjadi habitat Gajah Sumatera di Wilayah Sebelat, Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dibuka masyarakat dijadikan lahan perkebunan tanaman keras, seperti kelapa sawit dan sebagianya.(Foto/Ist)

Bengkulu, SUARA PEMBARUAN-Asap sisa pembakaran pembukaan lahan kebun sawit ilegal masih mengepul dari pohon yang bergelimpangan, legam arang, matahari terik, tak ada lagi pohon-pohon tegak berdiri.

Sejauh mata memandang hutan tak ada lagi, hanya pohon roboh terbakar, deretan bibit sawit, pondok perambah, serta tanah kuning yang terbentuk saling menyambung dibuat menggunakan alat berat yang didatangkan para perambah di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis, Desa Lubuk Talang, Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Ratusan pondok perambah terlihat kosong, Selasa (4/11/2025), informasi kehadiran Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, ke hutan yang dirambah itu cepat tersebar.

Ratusan perambah lintang pukang ambil langkah seribu selamatkan diri. Pukul 10.00 wib, helikopter membawa Rohmat mendarat di hutan yang rusak parah seperti medan perang ditinggalkan prajurit.

Meski helikopter mendarat, Rohmat tak langsung turun, lama termenung, sebab sebelum mendarat ia dipertontonkan pemandangan udara yang memilukan, ribuan hektar hutan dirambah massal.

Paparan kondisi hutan, gajah dan harimau dibeberkan Kepala BKSDA Bengkulu, Himawan Sasongko, dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Haidir Asida, bergantian.

Kondisi TNKS hanya sedikit ditemukan perambahan, empat hektar berbatasan dengan HPT Lebong Kandis. "Ditemukan perambahan masuk ke TNKS sekitar empat hektar berbatasan dengan HPT Lebong Kandis," kata Kepala Balai TNKS Haidir.

Di wilayah TNKS masih ditemukan indikasi keberadaan gajah liar berupa kotoran oleh petugas TNKS dan BKSDA. Kawasan TNKS, HP Air Ipuh I dan II, dan HPT Lebong Kandis, HP Air Dikit, HP Air Teramang, HP Air Rami, Sebelat, seluas 144.880 hektar merupakan kantong habitat gajah sumatera.

Namun kondisi paling pilu terjadi kerusakan di HPT Lebong Kandis, Hutan Produksi (HP) Air Rami, HPT Air Ipuh II, HP Air Teramang, HP Air Ipuh I. Hutan babak belur, jalur gajah rusak, koloni terpisah mengakibatkan proses perkawinan alami gajah terganggu. Ancamannya punahnya gajah sumatera di Bentang Sebelat, Bengkulu.

Kesimpulan akhir, gajah sumatera di Bentang Sebelat hanya tersisa 25 ekor. Saat ini di Bentang Sebelat teridentifikasi 25 ekor gajah, 10 ekor gajah jinak di Taman Wisata Alam (TWA) Sebelat, lima ekor gajah liar di HP Air Teramang, HPT Air Ipuh II dan HPT Air Ipuh I atau dikonsesi PT. Bentara Arga Timber (BAT).

Kemudian di HPT Lebong Kandis dan HP Air Rami atau dalam konsesi PT. Anugerah Pratama Inspirasi (API) terdapat enam ekor gajah liar, dan empat ekor gajah jantan liar.

"Total tersisa 25 ekor. Yang berada dalam dua koloni terpisah antara HP Air Ipuh II dan HP Air Rami terputus karena perambahan," kata Wamen Rohmat, seperti dilansir Kompas.com

Koloni Berjalan Punah

Direktur Lingkar Inisiatif Indonesia (LII), Iswadi, menyatakan, koloni gajah di Bentang Sebelat, Bengkulu, merupakan koloni terakhir.

Halaman:

Tags

Terkini