Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi terkait pernyataannya mengenai kebutuhan daging sapi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat menuai perhatian publik.
Ia menjelaskan bahwa angka kebutuhan 19.000 ekor sapi per hari bukanlah kondisi riil, melainkan simulasi perhitungan jika seluruh dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di Indonesia secara bersamaan menyajikan menu daging sapi.
Menurutnya, asumsi tersebut didasarkan pada perhitungan sederhana: satu dapur SPPG membutuhkan sekitar satu ekor sapi untuk sekali memasak menu daging sapi. Jika jumlah dapur dikalikan secara nasional, maka muncul angka tersebut.
Dalam praktiknya, kebutuhan daging untuk satu kali memasak di satu dapur berkisar antara 350 hingga 382 kilogram, yang setara dengan satu ekor sapi. Namun, menu MBG tidak selalu menyajikan daging sapi karena terdapat variasi bahan lain seperti telur, ayam, dan ikan.
Dadan menegaskan, hingga saat ini belum pernah ada kebijakan yang mengharuskan seluruh SPPG menyajikan menu yang sama secara serentak. Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan permintaan yang dapat berdampak pada harga pasar.
Ia mencontohkan, saat peringatan ulang tahun Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, penyajian menu telur secara serentak untuk jutaan penerima manfaat sempat memicu kenaikan harga telur di pasaran.
Karena itu, penyusunan menu MBG disesuaikan dengan potensi bahan pangan lokal di masing-masing daerah, sekaligus mempertimbangkan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.
Sebelumnya, pernyataan terkait kebutuhan ribuan sapi per hari sempat disampaikan dalam rapat kabinet di Istana Negara pada Desember 2025, yang kemudian memicu beragam respons publik, terutama karena menu daging sapi dinilai jarang muncul dalam program MBG.
Sejumlah kasus terkait menu MBG juga sempat viral, mulai dari porsi daging yang dinilai minim hingga kualitas olahan yang kurang optimal di beberapa daerah.
Dengan klarifikasi ini, BGN menegaskan bahwa program MBG tetap mengedepankan fleksibilitas menu, keberlanjutan pasokan, serta stabilitas harga pangan di masyarakat.